Mengenal dan membersihkan Diri sendiri
Setiap manusia mempunyai identitas yang tersendiri dan mengapa ia penting?
Menurut Islam,
hidup kita bukan hanya sekadar makan dan tidur sahaja tetapi khalifah Allah di
atas muka bumi ini yang mana kita perlu melakukan amar makruf nahi mungkar demi
akhirat nanti. Setiap amalan yang dilakukan di atas muka bumi ini dicatat dan
dihitung pada hari pembalasan.
Namun begitu,
tidak semua yang mengetahui matlamat hidup, masih lagi ramai yang tercari-cari identitas
mereka atau dengan kata lain apa yang mereka kejarkan. Oleh sebab itu, mengenal
diri sendiri adalah penting dan diperintahkan oleh Allah untuk kita senantiasa
tahu tujuan hidup kita.
Siapa aku dan dari mana aku datang? Ke mana aku akan
pergi, apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia ini, dan di manakah
kebahagiaan sejati dapat ditemukan? Di sini kita diantarkan untuk memilah, mana
yang bersifat hakiki dalam diri kita dan mana yang tidak. Serentetan pertanyaan
sederhana namun sangat kompleks. Butuh perenungan diri untuk menjawab satu
persatu pertanyaan tersebut. Jawabannya mungkin sudah sangat kita hafal, tapi
belum tentu mampu kita resapi sehingga menjiwai keseluruhan aktivitas kita.
Rasul sendiri
mengingatkan bahwa mengenal diri sendiri adalah langkah pertama dalam mengenal
Allah SWT sebagai Tuhan seluruh alam (baca kisah teladan Nabi Muhammad SAW dan
keutamaan cinta kepada Rasulullah bagi umat muslim). Sebagaimana yang
disebutkan dalam hadis berikut ini:
“Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal
Tuhannya, dan barang siapa yang mengenal Tuhannya maka binasalah (fana)
dirinya.
Ada beberapa Cara
Mengenal Diri Menurut Islam
1. Mengamati diri
sendiri
Setiap manusia
hendaklah meneliti dirinya sendiri dan memikirkan tujuan hidupnya dan mengapa
dia diciptakan. Jika diamati dirinya sendiri ia membolehkan dia merasa bahwa
terdapat jiwa atau roh di dalam tubuh dan pada bila-bila masa sahaja rohnya
akan dicabut. Dengan tubuh yang diciptakan adalah untuk melaksanakan tanggung
jawab wajib kepada Allah SWT.
2. Mengetahui
hakikat penciptaannya
Manusia
diciptakan dengan suatu tujuan dan hakikat tujuan penciptaan manusia adalah
untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam
firman Allah berikut ini (baca tujuan hidup dalam Islam dan hakikat penciptaan
manusia)
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan
untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).
3. Bersyukur
kepada Allah SWT
Dengan mensyukuri
nikmat Allah SWT seorang manusia dapat mengenali dirinya dengan baik dan
mengenal Allah SWT. Mereka yang senantiasa bersyukur dengan nikmat yang dikaruniakan
akan senantiasa menyadari bahwa setiap nikmat itu datangnya dari Allah SWT
sedangkan dia tidak punya apa-apa di atas muka bumi ini. Malah, tubuh dan
dirinya juga adalah milik Allah. Perintah untuk mensyukuri nikmat Allah
tersebut dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an berikut
Dan (ingatlah
juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika
kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim :
7)
4. Mengetahui
kedudukannya
Allah SWT
menciptakan manusia dan menjadikannya khalifah di muka bumi. Mereka yang menyadari
diri mereka ialah khalifah akan senantiasa mengingati tanggung jawab mereka di
atas muka bumi ini. Dengan mengingat tanggung jawabnya sebagai khalifah maka
dia akan berbuat baik terhadap orang lain dan alam sekitarnya dengan baik dan
menjaga segala sesuatu sesuai dengan hakikatnya. Sebagaimana disebutkan dalam
firman Allah SWT (baca konsep penciptaan manusia dan hakikat manusia menurut Islam)
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau
hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji
Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
(Qs Al Baqarah : 30)
Ada beberapa Cara
lain yang dikemukakan Ahli dalam rangka mengenal diri:
1. Menganalisis
diri
Salah satu cara
untuk mengenal diri sendiri ialah menganalisis diri dengan cara menyenaraikan
segalanya tentang diri kita sama ada dari segi minat, kerjanya, pencapaian dan
matlamat hidup. Setiap pertanyaan juga perlu ditulis agar kita dapat mengetahui
apa yang kita inginkan dari kehidupan dan tujuan hidup kita.
2. Membuat jurnal
Tujuan membuat
jurnal adalah dengan banyak menulis kita akan lebih mengenali diri kita
sendiri. Kita dapat melihat reaksi kita dan merefleksi diri sendiri. Semakin
banyak yang kita luahkan dalam jurnal, akan membuatkan otak kita mengeluarkan
banyak ide. Selain itu, kita juga akan lebih mengetahui apa yang kita gemar,
hobi dan sebagainya. Pelan pekerjaan juga membantu hidup seseorang itu lebih
tersusun. Anda dapat dengan mudah terlibat dalam refleksi diri dan
mengetahui pola pikir dan proses berpikir Anda. Ini juga membantu Anda dalam
membaca reaksi Anda dan mengenali ide dan tujuan Anda.
3. Ketahui
kekuatan dan kelemahan diri
Selain itu, kita
perlu menyenaraikan kekuatan dan kelemahan diri kita supaya dengan kelebihan
yang kita ada tersebut dapat dicungkilkan demi masa hadapan, bukanlah dipendam
dek kerana malu dan malas manakala kelemahan pula untuk diubah ke arah yang
lebih baik. Apa yang kita mau pasti kita akan dapat jika terus berusaha. Dengan
cara itu, kita dapat mengenali tahap diri kita. Amati dan nilai bidang
yang Anda kuasai dan bidang yang kurang Anda miliki. Ini tidak hanya akan
membantu Anda dalam menentukan tujuan hidup Anda, tetapi juga akan membantu
Anda dalam mengidentifikasi keterbatasan Anda dan mengatasinya.
4. Mengenal diri Zahir
dan batin
Diri manusia
terdiri daripada 2 bahagian yaitu zahir dan batin. Zahir ialah dari segi fisikal
bermula dari terjadinya kita daripada sperma dan zigot sehingga menjadi manusia
cukup anggota badan. Kita boleh mendengar, melihat, menyentuh dan berpikir. Hal
ini jika dikaji akan membuatkan kita kagum dengan kekuasaan Allah SWT. Allah
sahaja pencipta kita dan juga seluruh semesta Alam. Selain itu, batin pula
ialah ruh yang ada di dalam diri kita. Sebelum kita mengenal Allah kita boleh
mengenal diri kita dahulu dengan cara melihat ke dalam kalbu kita yaitu sifat
baik dan buruk tersebut.
5. Mengingat
tujuan penciptaan
Mengapakah kita
dilahirkan ke dunia ini? Mengapa Allah mencipta kita? Walaupun banyak ujian
yang dilalui tetapi kita masih mampu bertahan. Hal ini kerana kita ialah
khalifah Allah di muka bumi ini. Tujuan kita hidup bukan hanya semata-mata
hidup tetapi kita perlu beriman kepada Allah SWT dan setiap yang kita hadapi di
atas muka bumi ini dengan tidak melanggar perintah Allah, Kita akan mendapat
ganjaran di syurga Allah.
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhamad Al-Ghazali
dalam kitabnya Kîmiyâ’us Sa‘âdah mengatakan bahwa mengenal diri (ma‘rifatun nafs) adalah kunci untuk mengenal Allah.
Logikanya sederhana: diri sendiri adalah hal yang paling dekat dengan kita;
bila kita tidak mengenal diri sendiri, lantas bagaimana mungkin kita bisa
mengenali Allah? Imam al-Ghazali juga mengutip Hadits Rasulullah “man ‘arafa nafsah faqad ‘arafa rabbah” (siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal
Tuhannya).
Dalam Surat
Fusshilat ayat 53 juga ditegaskan:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى؟ يَتَبَيَّنَ
لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di
dunia ini dan di dalam diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa
Al-Quran itu adalah benar.”
Tentu saja yang dimaksudkan Imam al-Ghazali di sini lebih
dari sekadar pengenalan diri secara lahiriah: seberapa besar diri kita, bagaimana
anatomi tubuh kita, seperti apa wajah kita, atau sejenisnya. Bukan pula
atribut-atribut yang sedang kita sandang, seperti jabatan, status sosial,
tingkat ekonomi, prestasi, dan lain-lain. Lebih dalam dari itu semua, yang
dimaksud dengan “mengenal diri” adalah berusaha menjawab
pertanyaan-pertanyaan mendasar:
Para
ulama menjelaskan, bahwa tahapan berikutnya setelah seseorang mengenal dirinya
bahkan menjadi salah satu sarana untuk menambah untuk mengenal diri adalah
Tazkiyatunnafs, yaitu menyucikan diri.
Jiwa manusia
dapat dibagi dalam tiga keadaan, yakni annafs al-muthma'innah, an-nafs
al-lawwa mah, dan an-nafs la'ammarat bis su'
Dengan menyadari
tiga kondisi nafs itu, menurut Said Hawwa, dalam Tarbiyatuna
ar-Ruhiyah, maka perlu adanya penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).
Menurut Said Hawwa, tazkiyatun nafs pada hakikatnya menjauhkan
diri dari kemusyrikan, mengakui keesaan Allah SWT, serta meneladani akhlak
Rasulullah SAW tercinta.
Ada tiga fase
yang mesti dilalui, yaitu tathahhur, tahaqquq, dan takhalluq.Tahap
pertama berarti memfokuskan hati dan pikiran hanya kepada Allah SWT.Kuncinya
adalah dzikir, baik secara lisan, batin, maupun perbuatan.
الَّذِينَ
يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ
فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا
سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “(yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Di dalamnya,
Allah menyinggung orang-orang yang mengingat-Nya baik da lam keadaan berdiri,
duduk, maupun berbaring. Mereka itu menyadari tanda-tanda kekuasaan Allah di
langit dan bumi.
Tahap kedua dapat
diartikan sebagai perwujudan sifat-sifat Allah yang mulia dalam aktivitas
seorang Muslim. Semboyannya adalah berakhlak sebagaimana akhlak Tuhan. Misalnya,
salah satu sifat Allah adalah Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim.
Maka dari itu,
seseorang hendaknya cenderung bersifat pengasih dan penyayang terhadap sesama.
Tahap ketiga adalah membiasakan akhlak-akhlak baik ke dalam kehidupan
sehari-hari.
Pentingnya
Tazkiyatun Nafs:
1.
Kesucian sebagai Ajaran Utama: Al-Qur'an
secara berulang kali menekankan pentingnya menyucikan jiwa. Dalam Surah
Asy-Syams (91:9-10), Allah berfirman, "Berhasillah orang yang menyucikan
jiwanya, dan rugilah orang yang menutupinya."
2.
Pembersihan dari Penyakit Hati: Tazkiyatun Nafs
membantu manusia untuk mengatasi penyakit-penyakit hati seperti kebencian, iri
hati, dan keserakahan. Dengan membersihkan diri dari sifat-sifat negatif ini,
seseorang dapat mencapai kedamaian dalam hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
3.
Peningkatan Kesadaran Spiritual: Dengan terus
menerapkan prinsip Tazkiyatun Nafs, seseorang dapat meningkatkan kesadarannya
akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Hal ini membantu dalam
memperkuat ikatan spiritual dan memperdalam hubungandengan Sang Pencipta.
Mengatasi
Godaan dan Ujian: Dengan
hati yang suci, seseorang menjadi lebih mampu menghadapi godaan dan ujian dalam
kehidupan. Tazkiyatun Nafs membantu membangun ketahanan spiritual yang kuat,
sehingga seseorang dapat tetap teguh dalam iman di tengah cobaan.
Comments
Post a Comment