Meneladani Umar bin Abdul Aziz RA

 A. Pendahuluan

Umar bin Abdul Aziz adalah sahabat yang masuk golongan tabiin, yaitu seseorang yang digolongkan pada sahabat Nabi walaupun tidak bertemu langsung dengan Nabi Muhammad SAW, akan tetapi bertemu langsung dengan sahabat Nabi yang bertemu langsung dengan Nabi. Umar bin Abdul Aziz adalah sosok pemimpin yang sangat tegas dan bijaksana. Ketegasan, kebijaksanaan, dan kesederhanaan beliau dalam memimpin tidak jauh berbeda dengan kakeknya Umar Ibn Khatab,. Umar bin Abdul Aziz dapat menjadi contoh bagi pemimpin kita sekarang dalam memimpin negeri ini.

 

B. Lingkungan Keluarga

Nama asli Umar bin Abdul Aziz adalah Umar bin Abdul Aziz bin Al-Hakam bin Abul Ash bin Umayyah. Ibunya adalah Ummu Ashim bin Umar bin Al-Khattab. Ia dilahirkan di Madinah Al-Munawwarah  tahun 63H/682 M. Umar bin Abdul Aziz semasa kecil tinggal bersama paman paman dari pihak ibunya di Medinah. Oleh sebab itu beliau mendapatkan bimbingan dan pengajaran yang baik, sehingga sifat mulia kakeknya diwarisinya.

 

Ketika kecil, Umar bin Abdul Aziz sering berkunjung dan menetap di rumah paman ibunya Abdullah bin Umar bin Khatab. Beliau selalu mengatakan pada ibunya bahwa ia ingin seperti kakeknya Umar Ibn Khatab.  Sang ibu selalu menjawab bahwa Umar bin Abdul Aziz kelak akan seperti kakeknya, seorang pemimpin dan ulama yang wara. sebagaimana yang pernah dikatakan Umar Ibn Khatab bahwa di antara keturunanku ada seseorang yang terdapat luka diwajahnya, dia adalah orang yang akan menegakkan keadilan di muka bumi.  Oleh sebab itu, ketika Umar bin Abdul Aziz kecil  keningnya pernah ditabrak oleh binatang. Ayahnya mengusap darah dari keningnya seraya berkata “ Apabila kamu adalah orang yang mendapatkan luka dari keturunan Marwan, maka kamu adalah orang yang bahagia.

Umar bin Abdul Aziz menghabiskan sebagian besar umurnya di Medinah. Ketika ayahnya Abdul Aziz wafat, khalifah Abdul Malik bin Marwan memintanya untuk ke Damaskus, dan menikahkan dengan putrinya , Fatimah.  Fatimah adalah wanita shalehah yang mengutamakan kesederhanaan dan ketakwaan kepada Allah. Dialah yang seorang putri khalifah, kakeknya khalifah, saudara khalifah dan bersuamikan khalifah. Pernikahan Umar bin Abdul Aziz dengan Fatimah menghasilkan tiga  orang anak yaitu Ishaq, Yakub, dan Musa.

Secara fisik, Umar bin Abdul Aziz sangatlah bagus, berkulit hitam manis, berwajah lembut dan tampan, dihiasi janggut yang bagus, bermata cekung dan keningnya ada tanda luka akibat tapak kuda.  Umar bin Abdul Aziz memiliki 4 orang istri dan 16 orang anak.

 

C. Umar bin Abdul Aziz Sang Walikota Madinah

Pada tahun 87 H ( 706 M ) Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi gubernur Hijaz di wilayah Medinah, di masa pemerintahan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, atau Al-Walid I. pada saat itu beliau berumur 24 tahun, walaupun jabatan ini adalah jabatan pertama yang diembannya, Umar bin Abdul Aziz dengan kecakapan, kecerdasan, serta kebijaksanaannya beliau berhasil menjadi gubernur. Dibuktikan hal pertama yang dilakukannya adalah membentuk dewan penasihat yang beranggotakan 10 ulama berpengaruh, untuk bersama sama mendiskusikan masalah yang dialami oleh umat berkaitan dengan urusan agama, pemerintahan, serta rakyat. Beliau membangun kesatuan antara ulama dan umara.

Keberhasilan yang kedua yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz adalah membongkar, memperbaiki dan memperluas mesjid Nabawi. Beliau dipercaya sebagai pengawas. Keberhasilan beliau memugar mesjid Nabawi membuat Hajjaj bin Yusuf Al-Saqafi iri hati, sehingga dia menuduh dan memfitnah Umar bin Abdul Aziz korupsi, pelanggar aturan, dan kolusi. Hal ini menyebabkan beliau di pecat menjadi gubernur oleh Khalifah Al-Walid I. akan tetapi segala tuduhan yang ditimpakan pada beliau tidak terbukti dan nama baik beliau dibersihkan oleh khalifah.

Pada khalifahan Sulaiman bin Abdul Malik bin Marwan, Umar bin Abdul Aziz dipercaya kembali menjadi pejabat pemerintahan, yaitu sebagai Al-Katib ( sekretaris istana ) oleh Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik bin Marwan. Beliau menjalankan dengan baik dan bertanggung jawab, sehingga kepercayaan khalifah semakin tinggi pada Umar bin Abdul Aziz.

 

D. Umar bin Abdul Aziz dan Kekhalifahan

Pada tahun 99 H khalifah Sulaiman bin Abdul Malik wafat. Khalifah tidak memiliki putra mahkota dikarenakan anak beliau Ayyub meninggal dunia. Menjelang wafat Sulaiman, penasihat kerajaan Rajabin Haiwah menasihatinya “ Wahai Amirul Mukminin, antara perkara yang menyebabkan engkau di jaga di dalam kubur dan menerima syafaat dari Allah di akhirat kelak adalah apabila engkau tinggalkan untuk orang Islam khalifah yang adil, maka siapakah pilihanmu?”. jawab Sulaiman “ Aku melihat Umar Ibn Abdul Aziz”. Khalifah melalui perdana menterinya berwasiat agar menyerahkan kekhalifahan kepada Umar bin Abdul Aziz.  Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah ke 8 dinasti Umayyah. Beliau di baiat pada hari Jumat setelah Shalat Jumat.

Sebelum di baiat, seluruh umat Islam berkumpul di dalam mesjid dan bertanya tanya siapakah yang akan menjadi khalifah baru.  RajaIbn Haiwah mengumumkan “ Bangunlah wahai Umar bin Abdul Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat wasiat Khalifah Sulaiman”.  Umar bin Abdul Aziz bangkit dan berkata dengan lantang “ wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku, dan tanpa pernah aku memintanya. Sesungguhnya aku mencabut baiat yang ada di leher kamu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki”.  perkataan Umar bin Abdul Aziz ini menunjukkan bahwa beliau merupakan sosok yang tidak tamak terhadap jabatan dan mendahulukan demokrasi.

Akan tetapi umat tetap menginginkan beliau untuk menjadi khalifah. Umar bin Abdul Aziz akhirnya menerima jabatan khalifah dengan hati berat, hati yang takut terhadap Allah, dan tangisan. Segala fasilitas dan keistimewaan yang diberikan saat itu di tolak Umar, beliau pulang ke rumahnya. Pada saat Umar sampai di rumah, putranya Abdul Malik bertanya “ Apakah yang sedang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?”.  Dijawab oleh Umar bin Abdul Aziz  :” Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu zuhur , kemudian ayah akan keluar untuk shalat bersama rakyat”. Abdul Malik yang sudah mengetahui ayahnya sudah dibaiat menjadi khalifah berkata “ Ayah, siapa pula yang menjamin ayah masih hidup sehingga waktu zuhur nanti sedangkan sekarang tanggung jawab Amirul Mukminin mengembalikan hak-hak orang yang didzalimi”. mendengarkan perkataan anaknya, membatalkan niat untuk tidur, ia memanggil anaknya mendekati, mengecup kedua belah mata anaknya seraya berkata “ Segala puji bagi Allah yang mengeluarkan dari keturunanku, orang yang menolong aku atas agamaku”.

Strategi yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz dalam pemerintahannya, patut dijadikan contoh oleh pemimpin sekarang. Beliau berusaha mengakomodir kebutuhan rakyatnya dengan memilih hidup sederhana seperti rakyatnya. Tindakannya bekerja sama dengan para ulama adalah tindakan yang sangat dipuji oleh umat pada saat itu.

Dibuktikan pada hari kedua sesudah beliau di baiat, beliau menyampaikan khutbah umum. Isi khutbahnya menyatakan bahwa menjadi khalifah adalah ujian yang berat diberikan oleh Allah kepadanya. Umar bin Abdul Aziz menyampaikan hal itu sambil menangis. Setelah itu beliau pulang ke rumahnya dan masih dalam keadaan menangis sehingga didengar istrinya. Istrinya menanyakan kenapa beliau menangis. Umar bin Abdul Aziz menjawab, bahwa di akhirat nanti orang orang miskin, ibu ibu janda yang anaknya ramai dan rezekinya sedikit, para foqoradari kaum muslimin dan para tawanan, mereka akan menuntut pertanggungjawabanku atas mereka. Bagaimana aku akan menjawabnya, sedangkan yang mampu bertanggung jawab atas mereka hanya Rasulullah.

Perbuatan yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz sama seperti kakeknya, Umar Ibn Khattab. Umar bin Abdul Aziz memerintah dengan sangat adil dan bijaksana. Beliau berhasil menjadikan negaranya sama halnya dengan kemajuan yang dialami Khulafaurrasyidin . kesederhanaan dan kebijaksanaannya mampu menyamai khulafaurrasyidin. Oleh sebab itu, banyak ahli sejarah menyebutnya khulafaurrasyidin yang ke-5.

Kesederhanaan Umar bin Abdul Aziz dalam pemerintahan, tercermin dalam kehidupan keluarganya. Pernah Umar bin Abdul Aziz memanggil semua anak anaknya, dan berkata :” wahai anak anakku, sesungguhnya ayahmu telah diberikan menjadi dua pilihan, pertama : menjadikan semua kamu kayadan ayahmu masuk dalam neraka. Kedua, kamu miskin seperti sekarang dan ayah masuk ke dalam syurga ( karena tidak menggunakan uang rakyat ),. sesungguhnya wahai anak anakku telah memilih syurga.

Umar bin Abdul Aziz tidak meninggalkan harta kepada anak anaknya, tidak sama dengan khalifah Bani Umayyah lainnya. Setelah kekhalifahan Bani Umayyah jatuh dan masa masa sesudahnya keturunan Umar bin Abdul Aziz adalah golongan yang kaya berkat doa dan tawakkal Umar bin Abdul Aziz.

 

E. Wafatnya Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz meninggal dunia sebelum ia melampaui usia empat puluh tahun tepatnya pada tanggal 25 Rajab 101 H di Deir Saman yang termasuk wilayah Provinsi Homs, dengan meninggalkan 14 orang putra. Tampaknya ia terlalu memforsir tenaganya dalam menangani urusan umat Islam dan terlampau sering bergadang untuk mengerjakan urusan Negara, serta tidak memperhatikan makan dan minumannya. Tentulah itu berdampak negatif terhadap kesehatannya. Tidak pelak lagi, fisiknya tidak mampu menahan beban kerja itu. Ia pun menghadap Tuhannya dengan penuh ketenangan dan diridhai rakyatnya.

Pada riwayat lain, Umar bin Abdul Aziz wafat disebabkan sakit akibat diracun oleh pembantunya.  Keserhanaannya semakin nyata ketika wafatnya beliau. Ketika menteri meminta istrinya untuk mengganti baju khalifah dengan pakaian layak dan patut dilihat oleh pelayat, istrinya mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz tidak memiliki baju lain selain yang dipakainya. Kemudian ia digantikan saudara sepupunya Yazid bin Abdul Malik (Yazid II) sebagai khalifah

Comments

Popular posts from this blog

Berbagai situasi darurat di atas kapal