Akhlak dan bergaul dengan sesama dan lawan jenis
Adab bergaul dengan sesama yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali:
Pertama, menunjukkan rasa
gembira ketika bertemu. Hal ini menjadi salah satu tanda pertemanan yang baik. Orang-orang
yang bermusuhan cenderung saling membenci ketika bertemu sehingga lebih sering
menghindar dari pertemuan. Teman yang baik tidak hanya menunjukkan rasa
gembira, tetapi juga saling menjaga perasaan masing-masing ketika bertemu
dengan menghindari sikap atau kata-kata yang tidak mengenakkan.
Kedua, mendahului
beruluk (mengucap) salam. Seorang teman tidak sungkan-sungkan untuk mendahului
mengucap salam meskipun mungkin ia lebih tinggi kedudukannya secara sosial.
Seorang teman cenderung menempatkan diri setara dengan tidak memandang yang
lain lebih rendah dari dirinya.
Ketiga, ramah dan lapang
dada ketika duduk bersama. Hubungan pertemanan memang sangat menyenangkan
terutama karena tidak ada jarak di antara mereka. Hal seperti ini memungkinkan
terjalinnya keakraban satu sama lain dan keramahan yang tulus. Jika terjadi
hal-hal yang khilaf, seorang teman akan cenderung mudah memaafkan karena
umumnya tidak menginginkan pertemanannya menjadi renggang.
Keempat, ikut melepas
saat teman berdiri. Sikap ini menunjukkan penghargaan atau penghormatan
terhadap teman. Hubungan pertemanan tidak bisa disamakan dengan hubungan kerja
antara atasan dan bawahan. Seorang teman memperlakukan temannya sebagaimana ia
ingin diperlakukan sama dengan teman tersebut. Dan inilah hakikat pertemanan
yakni kesetaraan.
Kelima, memperhatikan
saat teman berbicara dan tidak mendebat di saat sedang berbicara. Sikap ini
juga menunjukkan penghargaan atau penghormatan terhadap teman sebagai wujud
dari kesetaraan. Dalam pertemanan kedua belah pihak tidak ingin saling
menyakiti. Hal-hal yang bisa merusak pertemanan akan dihindari sebanyak
mungkin.
Keenam, menceritakan
hal-hal yang baik. Artinya bukan menceritakan hal-hal yang bisa menimbulkan
rasa malu, ter sakiti ataupun menyinggung perasaannya. Jika hal seperti ini
bisa dijaga dengan baik tentu hubungan pertemanan akan langgeng, dan bahkan
bisa berlanjut hingga ke anak cucu.
Ketujuh, tidak memotong
pembicaraannya dan memanggil dengan nama yang disenangi. Memotong pembicaraan
seorang teman tanpa alasan yang kuat bisa berarti tidak menghormatinya. Hal
seperti ini sebaiknya dihindari untuk menjaga hubungan baik antar teman.
Demikian pula memanggil teman sebaiknya dengan panggilan yang ia senangi.
Kedelapan, Menjaga Ucapan
- Berbicara dengan Lemah
Lembut: Dalam Al-Quran, Allah memerintahkan untuk berkata dengan lemah lembut
dan tidak menyakiti perasaan orang lain.
- Hindari Ghibah dan
Fitnah: Menghindari gosip, fitnah, dan membicarakan keburukan orang lain adalah
bagian dari menjaga kehormatan diri dan orang lain.
-Berkata Jujur: Kejujuran
adalah fondasi dari setiap hubungan yang baik. Remaja Muslim harus selalu
berkata jujur dan menghindari kebohongan.
Kesembilan, Berbagi dan Peduli
- Membantu Sesama: Selalu
siap membantu teman dan orang lain yang membutuhkan pertolongan.
- Sedekah: Berbagi rezeki
dan sedekah kepada yang membutuhkan adalah bentuk kepedulian yang diajarkan
Islam.
-
Empati: Menunjukkan empati dan memahami perasaan orang
lain adalah tanda akhlak yang mulia.
Kesepuluh, Menjaga Pergaulan dengan
Lawan Jenis
- Menjaga Pandangan: Islam
mengajarkan untuk menjaga pandangan agar terhindar dari hal-hal yang bisa menjerumuskan
pada dosa.
- Hindari Khalwat
(Berduaan): Menghindari situasi berduaan dengan lawan jenis di tempat sepi
untuk mencegah godaan dan fitnah.
- Pakaian yang
Sopan: Berpakaian sopan dan menutup aurat sesuai dengan ajaran Islam.
Adab yang harus
diperhatikan dalam beretika dengan lawan jenis:
1. Tidak berduaan di tempat sepi karena dapat menimbulkan fitnah
Hal pertama adab
atau etika dalam pergaulan dengan lawan jenis adalah tidak berduaan apalagi di
tempat sepi karena dapat menimbulkan fitnah dan kesalahpahaman. Jika memang
ingin bertemu dengan teman dengan lawan jenis, carilah tempat yang aman yang
tidak akan menjadi sumber fitnah seperti di tempat terbuka dengan jaga jarak
yang cukup dan memang tempat umum yang memang terlihat oleh orang lain. Perlu
diingat juga pergaulan berbeda jenis memang tidak dipermasalahkan dalam Islam
selama etika dan adab tetap terjaga dan adab yang paling utama dalam bergaul
dengan lawan jenis adalah tidak berduaan bahkan minimal juga harus ada
mahramnya yang ikut dalam pertemuan seperti orang tua, kakak kandung atau
saudara yang memang dapat menjadi saksi jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
2. Menjaga
pandangan
Adab berteman
dengan teman berbeda jenis adalah harus dan wajib menjaga pandangan. Menjaga
pandangan dapat membuat seseorang terhindar dari zina pandangan yang kadang
secara sengaja atau tidak sengaja dirasakan orang lain yang memang bukan
mahramnya. Bahkan Allah SWT berfirman dalam QS. An Nur ayat 30 :
قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ
وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ
بِمَا يَصْنَعُوْنَ
yang artinya :
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya
dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya
Allah Maha Teliti terhadap apa yang mereka perbuat. (QS An-Nur: 30)
bahkan dalam
beberapa riwayat Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya Dari Jarir bin
Abdullah Al-Bajali dia bertanya kepada Rasulullah SAW tentang pandangan atau
penglihatan (terhadap perempuan) secara tiba-tiba, kemudian beliau
memerintahkan untuk memalingkan pandanganku (Riwayat Muslim, Abu Daud, Ahmad,
At-Tirmidzi dan An-Nasa’i)
Begitu pula sabda
Rasulullah kepada Ali Radhiallahu Anhu, “Wahai Ali, janganlah kamu susulkan pandangan pertamamu
dengan pandangan kedua, karena yang dibolehkan untukmu hanya pandangan pertama
(yang tidak disengaja) sedang pandangan yang kedua tidak lagi dibolehkan.”
(Riwayat Abu Daud)
3. Menjaga
diri
Etika dalam
mengobrol dengan lawan jenis adalah harus bisa saling menjaga diri. Hindari
sentuhan-sentuhan yang tidak perlu apalagi kepada orang yang bukan muhrimnya. Hindari
pandangan mata apa lagi menatap dengan hawa nafsu. Tidak boleh ada sentuhan
dari kulit ke kulit, seperti sabda Rasulullah SAW dalam Hadis dijelaskan yang
artinya “Sungguh jika
kepala seorang laki-laki ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik baginya
daripada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya” HR Ath-Thabrani
dalam “Al-Mu’jamul kabir” no.
486 dan 487
Bahkan etika
menjaga diri menjadi sebuah hal yang harus dimiliki setiap muslim, karena
sebaik baiknya umat adalah mereka yang mampu menjaga dirinya baik itu dari hawa
nafsu dan dari syahwat dunia.
4. Menghindari
pembicaraan tentang lawan jenis
Adab yang
selanjutnya adalah menghindari pembicaraan tentang lawan jenis. Kadang di dunia
modern seperti ini laki-laki selalu dengan pintar bersilat lidah dalam memuji
perempuan yang bukan mahramnya, rayu dengan perkataan cantik, cakep, ganteng,
dan lain sebagainya memang dapat membuat seseorang menjadi senang tapi dalam
ajaran Islam itu merupakan hal yang tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan
perasaan yang lain.
Menghindari
pembicaraan tentang lawan jenis juga dapat menciptakan komunikasi yang baik
antara kedua belah pihak dan yang pasti tidak akan menimbulkan hal-hal lain
yang tidak diinginkan.
5. Berbusana sopan
DAN menutup aurat
Berbusana sopan
dalam agama Islam merupakan keharusan apa lagi menutup aurat. Dalam Hadits
Riwayat Abu Daud Rasulullah SAW juga menjelaskan mengenai ketentuan menutup
aurat dalam hadis berikut.
احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا
مَلَكَتْ يَمِينُكَ
“Jagalah (tutuplah) auratmu kecuali pada istri atau budak
yang engkau miliki,” (HR. Abu Daud)
6. Tidak mendesah
atau membuat-buat suara manja dalam berbicara
Terutama kaum
wanita, janganlah membangkitkan syahwat lawan jenis dengan cara membuat-buat
dalam berbicara, kata cantik berubah jadi syantik. Atau sejenisnya yang memang
disengaja untuk memancing perhatian.
“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti
wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam
berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan
ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. Al Ahzab: 32).
Comments
Post a Comment