Malin Kundang
Dari Wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia bebas
Malin Kundang adalah cerita rakyat yang berasal dari
provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Legenda Malin Kundang berkisah tentang
seorang anak yang durhaka pada ibunya dan karena itu dikutuk menjadi batu.
Cerita rakyat yang mirip juga dapat ditemukan di
negara-negara lain di Asia Tenggara. Di Malaysia cerita serupa berkisah tentang
Si Tenggang yang berasas dari kisah lebih
awal lagi pada tahun 1900 dalam buku Malay Magic yang ditulis oleh Walter
William Skeat sebagai satu cerita rakyat berjudul Charitra Megat Sajobang.
Cerita Si Tenggang pernah diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta pada tahun
1975 sebagai judul Nakoda Tenggang: Sebuah Legenda dari Malaysia.
Kisah
Diceritakan bahwa Malin Kundang merupakan anak semata wayang yang tinggal
bersama ibunya. Saat remaja, ia memutuskan untuk pergi merantau dengan
menumpang kapal seorang saudagar. Di tengah perjalanan, kapal yang dinaiki
Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan dirampas,
sementara para awak kapal dan penumpang dibantai. Malin Kundang bersembunyi
sehingga nyawanya selamat. Setelah terkatung-katung di laut, akhirnya kapal
yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Malin Kundang berjalan menuju ke
desa yang terdekat, dan memulai kehidupan yang baru di sana. Berkat
kegigihannya dalam bekerja, ia berhasil menjadi saudagar yang memiliki banyak
kapal dagang beserta anak buah. Setelah menjadi kaya, Malin Kundang pun
menikah.
Bertahun-tahun kemudian, Malin Kundang dan istrinya melakukan pelayaran,
dan berlabuh di tanah kelahirannya. Ibu Malin menyaksikan kedatangannya. Sang
ibu melihat bahwa saudagar di kapal sangat mirip dengan Malin Kundang. Ia
mendekati kapal untuk memastikan ciri-ciri anaknya, dan semakin yakin setelah
semuanya cocok, lalu berusaha untuk berkomunikasi dengan Malin Kundang. Tetapi,
Malin Kundang menjadi marah meskipun dia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah
ibunya, karena dia malu akan penampilan ibunya yang lusuh dan kotor. Mendapat
perlakukan seperti itu, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia pun menyumpah
anaknya, “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah
batu”. Saat Malin Kundang kembali pergi berlayar, badai dahsyat menghancurkan
kapalnya. Lalu ia terdampar di pantai tanah kelahirannya. Setelah itu, tubuhnya
perlahan menjadi kaku, dan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Kisah
tersebut berlatar di pantai Air Manis (Aia Manih), di selatan kota Padang,
Sumatra Barat.
Batu Malin Kundang
Legenda Malin Kundang telah memberi inspirasi bagi sebuah karya seni di
pantai Air Manis, Padang. Karya itu berbentuk pecahan kapal dan seseorang yang
disebutkan sebagai Malin Kundang, dalam posisi tertelungkup di pesisir Pantai
Air Manis, Kota Padang, Sumatra Barat. Bongkahan batu menggambarkan akhir hidup
tokoh Malin Kundang, saudagar yang saat kedatangannya ke kampung halaman
mendapat kutukan karena menolak mengakui ibunya.
Keberadaan Batu Malin Kundang telah memopulerkan Pantai Air Manis, tempat
latar legenda sebagai salah satu daya tarik wisata di Padang. Relief pada Batu
Malin Kundang sendiri dikerjakan pada tahun 1980-an, hasil karya Dasril Bayras
bersama Ibenzani Usman.
Untuk audio, silakn klik link berikut:
https://drive.google.com/file/d/10rYqghvSzmhQ-tPWCON9Usm_aU61_yVv/view?usp=sharing
Enjoy listening.
Comments
Post a Comment